www.jurnalkota.co.id
Oleh ; Farah Adibah
Dunia kembali menunjukkan betapa tumpulnya nurani di tengah genosida paling kejam abad ini. Namun kali ini bukan dengan rudal dan bom fosfor. Gaza dibantai dengan cara yang lebih sunyi, lebih keji, dan lebih sistematis : kelaparan massal. Sejak Israel memberlakukan blokade penuh pada 2 Maret 2025, truk bantuan hanya masuk dalam jumlah simbolik. Puluhan ribu anak kekurangan gizi. Bayi-bayi meninggal dalam pelukan ibu yang tak mampu menyusui. Rakyat Gaza tidak cukup mati karena peluru, tapi juga karena perut kosong. Ini adalah wajah baru genosida, yaitu kelaparan sistemik yang disengaja.
Menteri Israel terang-terangan menyatakan tak peduli dengan bencana kelaparan yang menimpa Gaza, karena baginya tujuan utama adalah menjadikan Gaza sepenuhnya Yahudi. Ucapan biadab itu tidak muncul dalam ruang hampa. Ia lahir dari atmosfer global yang busuk oleh ideologi kapitalisme, sistem yang menuhankan manfaat, menjadikan kekuasaan dan uang sebagai tolok ukur kebenaran, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi kepentingan geopolitik dan kolonialisme modern. Inilah sistem yang mengizinkan Israel berbuat sekeji apa pun, karena mereka adalah pion utama Barat di jantung dunia Islam.
Laporan dari berbagai media menunjukkan kondisi Gaza yang benar-benar berada di ambang kehancuran total. Tsunami kelaparan kini telah menewaskan lebih dari 15.000 anak-anak. Mereka pun tak luput dari malnutrisi parah yang menyebabkan gangguan pertumbuhan otak secara permanen. Kelaparan di Gaza bukanlah sekadar konsekuensi perang, tetapi alat genosida yang dirancang dengan sangat sistematis. Israel tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga masa depan anak-anak Palestina secara biologis. Dan dunia hanya menonton.
Kebiadaban ini terus meningkat, melampaui batas yang bisa dijelaskan dengan logika manusia. Retorika kemanusiaan telah lama gagal untuk mengimbangi brutalitas nyata di lapangan. Bantuan kemanusiaan tak lebih dari plester di tubuh yang hancur, sementara veto Amerika Serikat kembali membungkam semua upaya dunia untuk memberikan sanksi. PBB yang digadang sebagai harapan peradaban, justru menunjukkan impotensi totalnya. Di balik semua ini, tangan-tangan Barat begitu telanjang membela Zionis Israel. Mereka tidak hanya memberikan senjata, tapi juga legitimasi politik dan perlindungan hukum internasional. Negara-negara Barat bahkan menutupi kejahatan ini dengan narasi “anti-terorisme”, menstigmakan perlawanan Palestina sebagai bentuk ekstremisme, sambil memutihkan kejahatan negara penjajah.
Inilah wajah asli kapitalisme global, sistem yang bukan hanya membiarkan penindasan, tapi menciptakan dan mengelolanya. Kapitalisme adalah mesin ideologis yang telah membentuk tatanan dunia berdasarkan dominasi kekuatan atas yang lemah. Hukum, lembaga internasional, bantuan, dan media semuanya telah dijinakkan untuk melayani kepentingan elit global. Maka genosida kelaparan di Gaza bukan hanya kejahatan Israel, tetapi adalah produk dari sistem dunia yang rusak, sistem yang digerakkan oleh kerakusan Barat, yang terus mengontrol dunia Islam dengan tangan-tangan penjajah dan antek-anteknya.
Yang lebih menyakitkan adalah diamnya pemimpin-pemimpin negeri Muslim. Mereka seperti tubuh tanpa ruh, mati rasa dan abai pada seruan Allah dan Rasul-Nya. Padahal mereka punya kekuatan, punya rakyat, punya sumber daya. Namun semua itu dilumpuhkan oleh rasa takut yang ditanamkan Barat melalui propaganda superioritas militer, sanksi ekonomi, dan tekanan diplomatik. Mereka lebih memilih tunduk pada perintah IMF dan diplomasi Barat daripada memenuhi panggilan jihad fi sabilillah untuk membela kehormatan umat.
Lebih ironis lagi, umat Islam pun ikut terpedaya oleh narasi Barat. Mereka percaya bahwa kekuatan hanya datang dari kursi PBB, dari tekanan diplomatik, dari donasi, atau bahkan dari pemilu. Padahal, Barat justru ingin umat tetap berjalan dalam jalur demokrasi liberal, karena mereka tahu sistem itu tak akan pernah membuahkan perubahan hakiki. Umat pun dijauhkan dari akarnya, dari syariatnya, dari warisan sejarahnya yang gemilang. Mereka dibuat lupa bahwa perubahan sejati hanya bisa dicapai ketika umat kembali pada akidah dan sistem hidup Islam secara menyeluruh.
Sejarah mencatat bahwa kaum Muslimin memiliki kekuatan besar saat bersatu dalam institusi politik yang kokoh, yaitu negara Islam. Dari Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel hingga Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan Al-Quds, kekuatan umat bersumber dari keyakinan dan kesatuan. Kini saatnya menyadari bahwa solusi untuk Gaza bukan datang dari ruang diplomasi, tapi dari bangkitnya umat dalam jalan yang hakiki, yaitu jihad dan penegakan negara Islam (Khilafah). Genosida di Gaza harus menjadi pemantik kesadaran bahwa kita tidak bisa terus berharap pada dunia yang tunduk pada kekuatan uang dan kekuasaan. Kita butuh sistem alternatif, sistem yang adil, sistem yang berpihak pada kehidupan dan kehormatan manusia. Dan sistem itu adalah Islam dalam bingkai institusi politik negara Islam (Khilafah).
Umat tidak boleh terus terperangkap dalam keraguan dan ilusi kelemahan. Para ulama, aktivis dakwah, dan seluruh komponen umat harus bersatu dalam perjuangan ideologis untuk mengembalikan kemuliaan Islam. Jamaah dakwah ideologis harus terus memimpin umat dengan membangun kesadaran dan keyakinan bahwa kemenangan adalah janji Allah bagi mereka yang istiqamah. Jalan ini bukan jalan instan, tapi jalan yang pasti.
Para pengemban dakwah pun harus meningkatkan kapasitas mereka dalam menggugah pikiran dan perasaan umat. Kecerdasan intelektual harus dipadukan dengan kekuatan spiritual. Mereka harus menjadi cahaya di tengah gelapnya zaman, lewat lisan, tulisan, keteladanan, istiqamah, dan doa-doa panjang di malam hari, meminta pertolongan Allah untuk kemenangan Islam.
Sebab yang mampu menghentikan kekejaman Zionis bukanlah PBB, bukan pula konferensi perdamaian, tapi institusi Islam yang menyatukan umat dan mengerahkan seluruh kekuatannya demi membela kehormatan satu anak kecil di Gaza. Dunia hari ini butuh sistem yang benar, bukan tambalan moral, yaitu sistem Islam dalam naungan Khilafah. Hanya sistem Islam yang dapat memberikan solusi tuntas bagi Gaza. Dengan sistem kehidupan yang benar, Islam layak untuk kembali memimpin dunia.**


