Tragedi di Tapsel dan Buramnya Kapitalisme 


Jasa Pembuatan LaguJasa Pembuatan Lagu

www.jurnalkota.co.id

Aulia Zuriyati 
(Aktivis Muslimah)

Di tengah derasnya arus kehidupan kota, banyak orang terhimpit kebutuhan yang kian menekan. Harga-harga merangkak naik, pekerjaan sulit dicari, dan tagihan datang silih berganti. Dalam keadaan seperti ini, sebagian orang mampu bertahan, sementara yang lain terperosok dalam jurang putus asa. Ketika harapan mulai memudar dan pintu bantuan tak kunjung terbuka, pilihan yang tersisa bisa saja berubah menjadi gelap.

Desakan membayar uang sewa rumah memicu Riswan Lubis (41), tukang servis CCTV di Kota Medan, membunuh Amima Agama (72), langganannya sejak 2016. Menurut Kapolrestabes Medan Kombes Gidion Arif Setyawan, korban memanggil pelaku untuk memperbaiki CCTV. Saat pelaku meminjam uang dan ditolak, ia emosi, menyerang korban dengan cutter, membekapnya hingga tewas, lalu mengambil barang berharga dan melarikan diri. Pelaku ditangkap di Kabupaten Tapanuli Selatan pada Rabu (Kompas.com, 23/7/2025).

Tapi sebetulnya, peristiwa seperti ini bukanlah yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir. Pertanyaannya, mengapa bisa terjadi? Apakah kita hanya akan berhenti pada mengecam pelaku dan mengucap belasungkawa kepada korban? Ataukah kita cukup puas dengan kalimat “Ini murni kriminal”? Padahal jika kita jujur melihat lebih dalam, tragedi ini adalah potret buram dari sebuah sistem kehidupan yang gagal.

Akar masalahnya terletak pada diterapkannya sistem kapitalisme-sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini menyerahkan pemenuhan kebutuhan rakyat kepada mekanisme pasar dan persaingan bebas, sehingga yang kuat semakin mendominasi dan yang lemah semakin terpinggirkan. Negara hanya berperan sebagai penjaga kepentingan pemodal, bukan pengurus rakyat. Akibatnya, jurang kesenjangan melebar, harga kebutuhan tidak terkendali, dan rakyat miskin dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tekanan hidup.

Sebuah sistem yang membiarkan rakyat hidup dalam tekanan ekonomi, tanpa jaminan keselamatan, dan tanpa kepastian masa depan. Kita hidup dalam sistem yang menjadikan manusia sebagai individu-individu terpisah. Sistem kapitalisme-sekularisme mengajarkan bahwa hidup ini soal bertahan, bersaing, dan mencari untung sebanyak mungkin. Soal halal-haram? Itu urusan masing-masing.

Maka tak heran, ketika seseorang ditekan oleh kebutuhan sementara tidak ada solusi nyata dari negara, kejahatan menjadi jalan pintas yang dipilih. Peristiwa Riswan bukan satu-satunya. Di berbagai sudut negeri, ada banyak orang yang digiring oleh sistem untuk melakukan hal-hal yang tak seharusnya.

Ketika harga-harga naik, pekerjaan sulit, dan utang menumpuk, sementara negara sibuk mempercantik citra dan memperpanjang kekuasaan, rakyat kecil ditinggalkan dalam keputusasaan. Kejahatan bukan lahir dari niat buruk semata, tapi juga dari ketidakmampuan sistem untuk melindungi.

Lucunya, negara begitu sigap ketika berbicara soal stabilitas politik dan investasi asing. Tapi dalam urusan rakyat miskin yang kelaparan, sering kali suara negara nyaris tak terdengar. Saat kasus seperti ini mencuat, negara bertindak sebagai penonton: hadir di akhir cerita dengan polisi, berita, dan pengadilan. Tapi di awal, ketika rakyat mulai terjepit kebutuhan, negara ke mana?

Padahal, dalam sistem Islam, negara tidak boleh membiarkan satu jiwa pun terlantar. Pemimpin dalam Islam adalah pelayan umat, bukan pejabat yang hanya tampil saat kampanye. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas mereka” (h.r. Bukhari dan Muslim).

Islam tidak datang hanya untuk membenahi akhlak atau mengajarkan ibadah. Islam datang sebagai sistem kehidupan. Dalam Islam, kebutuhan pokok rakyat seperti tempat tinggal, makanan, dan pekerjaan wajib dijamin oleh negara. Negara Islam tidak membiarkan rakyat kelaparan, apalagi sampai membunuh karena desakan ekonomi. Bahkan, jika ditemukan ada orang miskin yang terpaksa mencuri atau melanggar hukum karena tidak mendapat bantuan, maka yang pertama diperiksa adalah penguasa. Apakah ia telah lalai? Apakah zakat telah disalurkan? Apakah lapangan kerja tersedia? Apakah harga kebutuhan dikendalikan?

Dan jika ada pelaku kriminal yang terbukti bersalah, Islam tidak membiarkan pelaku bebas begitu saja. Ada hukum qishas (balasan setimpal) yang diberlakukan untuk menjaga nyawa manusia. Tapi semua dilakukan dengan proses yang adil, bukan seperti hukum hari ini yang tajam ke bawah, tumpul ke atas.

Dalam sistem Islam, pemimpin bukan hanya simbol. Ia adalah pelayan umat yang bertanggung jawab secara langsung di hadapan Allah. Negara wajib menyediakan jaminan hidup, membuka lapangan kerja, memastikan distribusi kekayaan berjalan adil, dan menutup segala akses ekonomi yang merusak seperti riba, judi online, bahkan investasi spekulatif yang menjebak rakyat miskin.

Setiap warga akan memiliki kepercayaan terhadap sistem, karena mereka tahu bahwa negara tidak akan membiarkan mereka berjuang sendirian. Tidak akan ada cerita orang mencuri karena lapar, apalagi membunuh karena tidak mampu bayar kontrakan.

Selama sistem kapitalis masih digunakan, tragedi demi tragedi akan terus terjadi. Kita bisa mengganti pejabat, mengubah undang-undang, atau membuat program bantuan, tapi jika akar sistemnya rusak, hasilnya tetap sama, ketimpangan, kejahatan, dan penderitaan.

Sudah saatnya umat Islam menengok kembali sistem yang pernah membawa peradaban gemilang selama berabad-abad. Islam bukan hanya solusi spiritual, tapi juga solusi sosial, ekonomi, dan politik. Karena sesungguhnya, masalah hari ini bukan hanya pada pelaku, tapi pada sistem yang membentuknya. Dan hanya sistem Islam yang bisa menjadi jalan keluar sejati.

Wallahualam bissawab.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *