One Piece, Simbol Suara Rakyat


Jasa Pembuatan LaguJasa Pembuatan Lagu

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Kurang beberapa hari lagi kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Sebagaimana tradisi setiap tahunnya, setiap gang kampung dan kota berbenah, bersih desa, gelar berbagai lomba, malam tirakatan hingga puncaknya upacara bendera merah putih.

Semua dalam rangka mengisi kemerdekaan, semakin konyol lomba, semakin bersih lingkungan semakin baik, semua demi alibi ” hanya setahun sekali” sangat seremonial. Namun di tahun ini, saat simbol angka usia negara 80 tahun yang lebih mirip Kero Kero Keropi, nama karakter kodok ciptaan perusahaan Jepang, Sanrio, rakyat Indonesia tak hanya memplesetkannya dengan sebuah wajah yang mata dan mulutnya tertutup lakban hitam, yang menunjukkan protes rakyat terhadap penguasanya yang seolah menutupi mata dan mulut dalam menghadapi penderitaan rakyatnya.

Kemudian, bersamaan dengan perintah pengibaran bendera merah putih sejak 1 Agustus, kembali rakyat Indonesia memplesetkannya dengan pengibaran bendera One Piece. Terinspirasi dari serial anime asal Jepang, One Piece.

Banyak yang menebak ini adalah aksi untuk mengekspresikan kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah. Bendera One Piece merujuk pada Jolly Roger, sebuah simbol tengkorak yang digunakan sebagai identitas bajak laut dalam sejarah dunia (Tempo.co, 1-8-2025).

Bendera One Piece pada dasarnya terdiri dari tengkorak manusia di atas tulang yang bersilang. Jolly Roger menjadi simbol yang penting dan berpengaruh, serta diakui sangat berarti bahaya di seluruh dunia. Tengkorak dan tulang bersilang itu sendiri biasanya digunakan untuk memperingatkan orang tentang zat berbahaya atau tempat pada tanda dan botol.

Para bajak laut di One Piece lalu menggunakan logo itu untuk berbagai kegunaan, termasuk bendera kapal, layar kapal, desain pakaian, dan tato. Dan keratifitas rakyat Indonesia yang tanpa batas, memodifikasi kepala tengkorak dengan menambahkan topi jerami di atasnya.

Seorang warga Kebayoran, Jakarta Selatan, Riki Hidayat, salah seorang warga yang ikut mengibarkan bendera One Piece. Ia mengatakan bukan berarti dirinya tak lagi mencintai Indonesia. Juga bukan soal hilangnya rasa nasionalisme. Dengan sedikit beretorika ia menanyakan, apa artinya nasionalisme jika negara tak ada upaya untuk melindungi hak warga negaranya sendiri.

“Saya cinta Tanah Air di mana saya bisa hidup di sana, tetapi Tanah Air yang saya cintai itu, bukan tanah air tempat saya membayar pajak, namun tidak mendapatkan hak yang sepadan atas pajak yang saya bayar,” ujar Riki tegas.

Namun upaya Riki dan juga sebagian besar rakyat Indonesia menyuarakan kebenaran rupanya tak ditanggapi sebagaimana mestinya oleh pemerintah. Alih-alih duduk bersama, wakil rakyat dalam hal ini Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI, malah menganggap pemasangan bendera tengkorak bajak laut itu sebagai upaya memecah belah bangsa.

Menurut Dasco, fenomena ini bergerak secara sistematis. Hasil pendeteksian dan masukan dari lembaga-lembaga pengamanan , fix memang ada upaya memecah belah persatuan dan kesatuan. Benarkah demikian? Jika perwakilan rakyat sudah membuat benteng diri terhadap rakyat maka bagaimana keadilan dan perubahan bisa terwujud? Padahal tanpa keduanya, apapun tujuan negara akan sia-sia.

Paranoid Pemerintah, Dimana Kasih Sayang?

Bendera One Piece, sepertinya memang menjadi cermin ketidakadilan di negeri penerap Sistem Kapitalis. Nyatanya memang katanya merdeka, hanya saja Kemerdekaan itu milik kelompok elit.

Rakyat yang peduli dan siap memberikan kritik dan saran kepada negara adalah aset kemajuan bangsa dan negara. Ibarat kereta api yang berjalan di atas rel, kritik dan saran rakyat adalah penjaga yang akan mengurangi kesalahan pemerintah ketika menerapkan kebijakan.

Dan sangatlah benar jika munculnya seruan mengibarkan bendera bajak laut One Piece saat HUT RI ke-80 adalah cermin ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan. Seekor semut pun jika terinjak akan menggigit, apalagi manusia yang diberi Allah akal Dan kesempurnaan fisik.

Sangat keji jika rakyat yang ingin perubahan dianggap gerakan makar. Bumi ini dihuni bersama, wajar jika ada pihak yang menyeru jangan berbuat kerusakan. Semestinya pemerintah menanggapi gerakan ini sebagai simbol rakyat mencintai negeri ini dan tidak rela negerinya terus di dera penderitaan akibat ulah oligarki, para penguasa sesungguhnya di republik ini. Merekalah sejatinya yang terus menerus menguasai dan mendikte penguasa saat membuat kebijakan.

Ironi, negeri yang kaya raya, namun semua kebutuhan dasar rakyat serba beli dan mahal pula . Cerita One Piece mencerminkan kondisi di Indonesia, di mana segelintir pejabat menikmati kekuasaan, sementara rakyat tertindas. Meski secara formal merdeka, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka karena kebijakan yang condong ke elit. Rakyat ketika menuntut hak dan ruang hidupnya yang dirampas atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN) malah dihadapkan pada militer. Dimana Kasih sayang seorang pemimpin?

Rasulullah saw. bahkan mendoakan para pemimpin demikian, “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia sayang pada umatku, maka sayangilah ia.” (HR. Muslim, no. 1828).

Hanya Dengan Islam, Rakyat Sejahtera

Perayaan hari kemerdekaan hingga hari ini masih sebatas seremonial. Persiapan dalam rangka “mengisi” Kemerdekaan yang melelahkan hingga menekan biaya banyak sangat mubazir sebab tidak dibarengi dengan pemahaman Kemerdekaan yang benar.

Akar masalah negeri ini sejatinya adalah Sistem Kapitalisme. Penerapan Sistem Kapitalisme telah melahirkan kesenjangan sosial yang tajam. Kebijakan dibuat demi kepentingan elite, sehingga rakyat terus tercekik oleh kezaliman struktural, mirip dengan sistem dunia dalam cerita One Piece yang penuh korupsi dan penindasan.

Umat harus disadarkan bahwa problem mendasar yang dihadapi adalah penerapan sistem buatan manusia, bukan dari Allah. Dengan kata lain, selama masih menghamba kepada hukum manusia yang digodok di parlemen, hingga membuang hukum Allah karena dianggap tidak sesuai zaman, sepanjang itulah nasib kita hanya berpindah Dari satu penindasan ke penindasan yang lain.

Allah SWT. berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(TQS Adh-Dhariyat:56). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk-Nya. Ibadah yang dimaksud bukan hanya salat, puasa, haji, zakat tapi seluruh perbuatan dan perkataan wajib sesuai syariat.

Penerapan syariat harus kafah (menyeluruh) sehingga umat akan terbebas dari kemudharatan Sistem Kapitalisme. Islam diturunkan bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi sebagai sistem hidup yang menjadikan umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk penindasan.

Kesadaran rakyat yang mulai muncul harus diarahkan kepada perjuangan hakiki yaitu mengubah Sistem Kapitalisme menuju penerapan Sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Bukan sekadar simbolik, tetapi perlawanan yang terarah dan terukur melalui dakwah dan perubahan sistem. Kita semua butuh perubahan, Wallahualam bissawab.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *